Stop bullying ya mama....

18 comments
PS: there’s nothing wrong with getting bigger boobs, lips or butt. Our intention is YOU don’t need it. It’s NOT necessary. Educating yourself by reading books and having big ambitions can actually change the world consciously or unconsciously.
source : instagram.com/womenontopp


Berasa nampyol gak sama quote nya, kalo saya nampol banget, apalagi buat mereka-mereka yang masih suka ngomongin "body shaming". jadi keinget waktu jaman-jaman masih single, saya kategori yang badannya kurus, tiap ketemu orang pasti yang diomongin "duhh..badanya terlalu langsing ya...", "gak doyan makan ya..", "kecapean ya jadi badan nya nyusut" pokoknya ada aja opening pembicaraan nya, tentang bentuk tubuh saya, dan saya sampe udah bosan plus sabar yang meningkat kearah sebel sama orang yang ngomong dan menyalahkan diri sendiri, kenapa kok badan saya kurus banget.

Terus santai aja? huhuhu nggakkkk.. efek dari bullying verbal itu saya sebisa mungkin untuk menaikkan berat badan, dari olahraga, minum jamu, minum obat,minum susu yang bisa nambah berat badan, makan yang bisa menambah berat badan dll. hasilnyaa adalahh?? badan saya tetap aja gitu gak naik-naik, udah segitu aja. Kalo di indeks masa tubuh badan saya tuh indeks yang rendah, tapi apa daya saya udah mencoba untuk menaikkan berat badan, tapi gak ada perubahan.

Di masa itu saya jadi down dan minder ke diri sendiri, jadi gak pede untuk ngaca karena ending nya nyalahin diri sendiri karena bentuk tubuh yang gak ideal versi orang lain. Butuh waktu yang cukup lama juga sampe pada akhirnya saya sadar kalo orang gak bisa se enak jidad nya untuk ngomongin atau ngomentarin bentuk tubuh saya yang emang udah begitu aja, awalnya saya hanya mesam mesem setiap dikomentarin, tapi lama-lama saking eneg nya sama mereka yang bullying saya. saya udah niat kalo mereka komentar lagi , saya gak akan diem aja. saya juga punya hak untuk membela diri saya.

Julidan orang terhadap penampilan seseorang macam seperti tradisi atau dianggap seperti perbincangan santai dan ringan. padahal efek dari bullying verbal itu mempengaruhi banget. kenapa gitu ya bahasan nya gak bisa yang lebih intelek gitu.. "eh..lo seneng baca ya? buku apa sih yang biasa lo baca.., share lah inti bukunya, gw males nihh baca buku" , atau kalo kita tau orang nya seneng dandan bisa dong ya kita ngobrol tentang permake-up an. Bukan tentang hasil dari make-up nya atau penampilan si orang nya, apalagi ngomongin bentuk badan si orang nya itu.

sebenernya sih gak hanya tentang body shamming ya... mom-shamming juga ada kan yaaaa.... duhh ini juga bikin gemez ya buibuk, apalagi kalo lagi ada di antara para ibuk-ibuk yang lagi ngumpul selalu aja ada ibuk yang tetiba menjadi dominan ngobrolin tentang betapa hebatnya dia sebagai ibu, dengan berbagai macam kegiatan nya dia sebagai ibuk dan perfect goals nya dia terhadap anak nya. Gak salah sih ini, tapi kalo udah mulai overload yang dia sampaikan, dan membuat gak nyaman suasana ini nih yang rempyong. hampir ibuk-ibuk ngalamin ya di situasi bertemu mom-perfect ini, ya di lingkungan ibuk-ibuk sekolah, arisan, teman kantor, bahkan teman deket.

Kalo saya pernah ngalamin bertemu dengan salah seorang ibuk bekerja, temen deket juga nggak sih.. tapi karena ada beberapa hal kerjaan yang saya harus ketemu dengan si ibuk ini. dari obrolan yang hanya kami berdua, dia menceritakan bagaimana ia sebagai ibuk bekerja harus mengurus anak-anak dirumah, mengajarkan anak-anak belajar dirumah, mengikuti kegiatan sekolah, menjadi pengurus orang tua di sekolah anak, sampe cara bahasa dia ke anaknya yang dia contohkan ke saya.., saya sih ngerasa santai aja nghadapin ibuk macam ini. karena udah hampir jadi konsumsi umum bagi para ibuk-ibuk seperti saya jadi ya gak ada salahnya mendengarkan cara dia. cuman berasa gak nyaman saat diantara obrolan kami berdua dia menyampaikan "ohh,,,, ternyata dirumah ada kerjaan ya..." , kirain cuman ngurus anak aja. uhukkk CUMAN ya buk, ini sih bikin kzl banget ya, bisa nya dia bilang kalo ngurus anak itu CUMAN ngurus anak, saya sampaikan gak pake panjang-panjang sih kalo dirumah saya membesarkan calon pemimpin, calon imam dan calon pemimpin rumah tangga. setelah bertemu dengan ibuk ini, saya membesarkan diri sendiri untuk tidak terpengaruh dengan "ejekan" nya , malah jadi intropeksi bagi diri saya sendiri.

Ternyata anggapan yang masih melihat stay at home mom itu hanyalah sebuah pekerjaan CUMAN itu masih berseliweran. gak ada yang salah kan ya mau sebagai stay at home mom, atau working mom. campaign ini kayaknya juga udah banyak banget kita lihat diberbagai macam media social, tapi tetap aja masih ada yang beranggapan seperti ibuk yang saya ceritakan tadi.
Menjadi stay at home mom atau working mom , adalah sebuah pilihan bagi ibuk. toh pada intinya adalah seorang ibuk kan..., bekerja di kantoran atau tidak bekerja dikantor tidak ada kaitan nya dengan ibuk., ibuk tetaplah ibuk bagi anak-anak.

Ibukjugamanusia


Read More

D.I.Y produk IKEA

No comments




Sejak ada IKEA di indonesia hampir produk yang ada dirumah ya produk nya IKEA, dibeli sedikit-sedikit ternyata hampir menghiasi sudut rumah. dan 90% ibuk-ibuk millenial sepertinya juga mendekor rumah nya dengan produk IKEA., iya ya.. hampir beberapa influencer home decor di instagram membuat kita melirik dan bertanya "itu beli dimana mba?" dan ending nya memasukkan kedalam wishlist , walaupun belum tentu juga akan dibeli *pengalamanpribadih*

Salah satu wishlist yang saya masukkan adalah Bekvam, bangku yang berfungsi juga sebagai mini tangga, karena punya pengalaman kalau lagi mengambil sesuatu di tempat yang lebih tinggi dan harus memakai bangku duduk, hampir seperti sedang akrobat circus yang harus seimbang.

Jadi saya memutuskan membeli Bekvam untuk saya letakkan di dapur, selain untuk mengambil barang yang ada di lemari dapur, tapi juga sebagai bangku duduk ibuk casta saat sedang masak, dan karena bangku ini model nya ada undakan kaki, anak-anak juga senang duduk disini, saat makan di meja makan. cuman berhubung warna nya yang khas banget kayu jati belanda, jadi lama kelamaan ada bekas noda dari kaki anak-anak, dan semakin lama menjadi terlihat kusam.

Ibuk-ibuk kan paham ya kalau udah begini bawaan nya pengen di make over, kebetulan ada sisa cat kayu dirumah, akhirnya saya cat Bekvam menjadi berwarna gelap. oia, saya mengecat bekvam dengan cat kayu yang campuran nya menggunakan air, jadi tidak dicampur dengan tiner sehingga tidak berbau menyengat. cuman butuh 30 menit untuk mengecat bekvam ini.

Read More

Sebuah pilihan bagi Ibu

No comments
Berawal dari cerita-cerita kecil antara saya dan adik saya tentang "motherhood" , menurut kita berdua pemahaman mengenai motherhood masih dianggap seperti pekerjaan yang ada di level bawah. Padahal ya.. menurut kita berdua ini termasuk pekerjaan yang job desc nya random banget. dan gak hanya melibatkan pekerjaan fisik , tapi juga perasaan. kebayang kan gimana kalo udah bawa-bawa masalah perasaan.

Dari obrolan kita berdua, perasaan disini tuh bukan hal yang menya-menye atau melow gimana gitu. tapi lebih kepada hal gimana kita sebagai ibuk bisa menata hati untuk menghadapi anak-anak. ibuk-ibuk pasti udah pada tau untuk masalah ini, dan menjadi pe-er banget untuk bisa menata pikiran.

Saya sendiri belum ada di phase seperti ibuk-ibuk lain yang punya tingkat kesabaran level tinggi, menata hati ala cinderella, Tapi saya sadari untuk bisa menata hati dan pikiran, seorang ibu juga perlu banyak belajar dari berbagai sumber bisa dari sharing session bersama ibuk-ibuk lain, membaca buku, mengobservasi anak sendiri dan menemukan jawaban dari permasalahan yang selama ini mengganjal. bisa juga dengan sharing bersama suami, walaupun mungkin suami tidak punya solusi untuk ini. tapi dengan menyampaikan apa yang menjadi dilema ibuk selama dirumah bersama anak perlahan bisa membuat suami memahami.

Pernah salah satu teman saya menceritakan bagaimana salah satu pemikiran sederhana dari teman nya mengenai motherhood. jadi singkat ceritanya teman saya bertemu dengan kolega nya dan di obrolan antara mereka berdua, kolega nya mengatakan "ohh.. jadi kamu dirumah punya kegiatan ya... aku pikir kamu dirumah tuh cuman ngurusin anak dan nunggu suami pulang kerja" disini memang tidak ada yang salah dari apa yang disampaikan oleh kolega teman saya itu, tapi seolah benang merah nya bagi teman saya itu, seorang wanita yang dirumah dan menyandang jabatan seorang ibu rumah tangga adalah sosok yang hanya melakukan pekerjaan dirumah and then nunggu suami pulang, padahal selain hanya melakukan pekerjaan rumah dan menunggu suami pulang, ibu-ibuk zaman now punya kegiatan yang banyak manfaat nya, ada yang punya usaha online / berdagang, ada yang memiliki keahlian dalam hal jasa yang gak harus selalu ada dikantor, bahkan gak sedikit ibu-ibuk yang bisa menghasilkan pendapatan dengan memberikan review dari beberapa produk atau mengisi content berita yang itu juga tidak harus dikerjakan di suatu tempat khusus bernama kantor.

Disini saya tidak mendiskreditkan seorang ibu bekerja, pada kenyataan nya juga banyak ibu-ibuk bekerja yang bisa berhasil menjalankan kedua peran nya sebagai ibu bekerja dan ibu rumah tangga. dont judge book by the cover saya rasa berlaku untuk umum, termasuk hal yang saya cerita kan diatas. dan bagi ibuk yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga juga termasuk saya tidak perlu berkecil hati , karena banyak hal-hal yang bisa kita kerjakan di rumah kan ya buk..., ada banyak event-event ibuk yang bisa kita ikutin dan menambah wawasan kita dan gak harus jadi mundur karena menjabat sebagai ibu rumah tangga. karena apapun profesi nya seorang ibuk tetap hanya dilihat sebagai ibuk bagi anak-anak.


Read More

Perlukah menunda anak untuk masuk sekolah?

No comments

Mau berbagi cerita kenapa alasan nya abang C postpone bersekolah selama satu tahun., karena usia abang yang masih terlalu dini untuk bisa masuk ke tingkat Sekolah Dasar, saat itu usia nya baru 5 tahun 6 bulan. cerita nya dimulai dari up and down nya mood saya dan juga abang, karena buat saya untuk abang yang sudah terbiasa dengan rutinitas sekolah tiap pagi dan serangkaian jadwal aktivitas disekolah, jadi berubah karena tidak lagi bersekolah di "sekolah", sungguh tantangan dari bingungnya saya untuk menyesuaikan kegiatan yang bisa dikerjakan dirumah tapi tetep fun, membiasakan tetap bangun pagi seperti akan berangkat sekolah, jadwal tidur siang, dan main, belum lagi muncul merasa bersalah karena kekhawatiran untuk kesiapan abang C masuk SD dan masih banyak lagi, dan saya sama sekali tidak punya pegangan apa yang harus saya lakukan terlebih dulu.

Alhamdulilah sekarang sudah kebantu banget dengan adanya media social dan google tentunya., karena saya bisa memilah apa saja yang dapat abang C kerjakan disaat waktu-waktu nya dirumah, tanpa ketinggalan saat nanti akan masuk ke Sekolah Dasar. Ibuk-ibuk dan tentunya semua orang tua pasti ngerti banget kalo untuk masuk ke Sekolah Dasar sendiri anak paling tidak sudah bisa membaca beberapa suku kata, memang tidak semua sekolah mengharuskan untuk anak bisa membaca. tapi dari pengalaman cerita ibuk teman abang C saat masih di TK, ending nya mereka mengikutsertakan anak mereka di les tambahan membaca, karena kesulitan saat mengikuti mid-test dan ujian kenaikan kelas.


Saya sama sekali tidak punya pengalaman untuk mengajar, disini memahami banget kalo ternyata untuk bisa mengajarkan anak di usia abang C itu butuh perhatian dan tentunya kesabaran, jangan tanya gimana gemes nya saya saat mengajarkan mengenalkan suku kata ke abang C, di tangga nada apa suara saya bagaikan sarah brightman sedang bernyanyi, dan berapa kali abang C harus menangis. in the end nya anak nya tetep gak ngerti.

Lama-lama menyadari kalo yang salah ada di diri saya., ketidaksiapan saya untuk bisa mengajarkan abang C lebih rendah dibandingkan kekhawatiran saya terhadap abang C., perlahan dan sampai saat ini pun saya masih perlahan untuk mencapai titik bisa memahami diri saya sendiri.

Berbekal pengalaman dari abang C , saat ini adek A di usia nya yang sudah 3 tahun belum saya daftarkan ke sekolah, saya biarkan adek belajar melalui bermain, tapi gak selalu belajar juga, kegiatan yang dasar saja yang saya kenalkan kepada adek seperti warna, mengenal mana yang lebih besar dan kecil, mengenal bentuk melalui mainan nya. walaupun kadang jawaban nya pas dan kadang tidak.

Beda anak , beda karakter dan sifat pastinya walaupun saudara kandung, bukan berarti saat abang disekolahkan di usia 3 tahun tidak bagus, di saat abang usia 3 tahun yang menjadi pertimbangan saya dan suami untuk mendaftarkan abang C sekolah, agar abang bisa bersosialisasi, menambah perbendaharaan katanya., karena di usia itu abang C takut kalo bertemu orang, tidak mau bermain dengan anak seusianya. dan setelah di daftarkan sekolah serta mengikuti kegiatan sekolah, abang C mulai berubah untuk mau bersosialisasi, sharing dengan teman, mau bermain dengan anak seusianya.

Sedangkan adek karena ada abang C perbendaharaan kata , sharing , dan pemahaman nya akan percakapan cukup lancar, malah bagi saya sangat lancar. itu sebabnya kenapa adek belum didaftarkan untuk sekolah, karena bagi saya dan suami hal dasar seperti diatas tadi sudah bisa adek capai. sedangkan untuk kegiatan motorik dipelajari dirumah melalui kegiatan sehari-hari.

Perlukah menunda anak untuk masuk sekolah? bagi saya orang tua harus melihat dulu kesiapan anak untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih serius. berdiskusi dengan anak mengenai konsep sekolah.



Read More

Mencari waktu yang tepat untuk Ngblog

No comments
ya ampun kemana aja buk??? *pertanyaan untuk diri sendiri*, jadi aku tuh sempet maju mundur tiap mau nulis di blog, dan setiap ada ide untuk nulis bukan nya langsung dicatet gitu ya.. ini sih nggak lenyap begitu saja seiring angin sepoy-sepoy. well, jadi intropeksi diri sendiri untuk lebih baik mengatur waktu untuk bisa me"me-time" kan diri dari kerutinitasan sebagai ibu rumah tangga.
karena penting banget hal-hal yang membuat kita bisa tetep waras dan sejalan seirama dengan waktu yang berjalan *ibukagaklebay*.

dan sepertinya aku tuh emang lebih baik menuliskan nya sajahh disini, buat tambahan bacaan aku dan pengingat untuk diri sendiri. baik lah jadi selama ini selain selalu lupa untuk nulis karena materi yang mau ditulis blas lupa, sekarang aku lagi fokus ke abang dan adek, iyaa karena aku merasa selama ini kok mereka kayak aku tuh kurang waktu nya sama mereka, padahal 24hr selalu bertemu. tapi sekarang lebih pengen deket sama mereka , jadi sekarang aku sebisa mungkin bikin list permainan yang akan kita mainin bareng-bareng, terus aku bikin target untuk abang dan adek untuk hal-hal sederhana seperti membereskan mainan, sholat, mengaji, membersihkan kamar, menyapu dan hal-hal sederhana lain nya.

walaupun terkadang mood nya masih up and down juga untuk ngerjain yang tadi aku sebutin, memaklumi banget, karena mereka pasti maunya terima beres dan gak mau ribet *karakter anak laki kan ya* tapi sebisa mungkin aku rayu mereka..hehehe masih mau di rayu mereka, walau diawal ada ngambek-ngambeknya tapi tetep dikerjain endingnya.

Jadi begitu kira-kira kenapa aku maju mundur bersama dengan blog ini, semoga bisa jadi journal aku nih blog tentang milestone abang dan adek.


Read More

Kenapa saya menulis blog

No comments


”don’t judge a book by its cover” pepatah ini tuh bener banget ya.. karena apa yang dilihat dari luar belum tentu cerminan sesungguhnya.

Sebagian besar orang yang melihat saya atau yang pertama kali melihat saya akan menilai saya type extrovert, jadi bawaan nya gampang diajak ngobrol, ini terbukti kalau lagi nunggu abang di tempat kursus atau tempat umum lain nya, ibu-ibu yang bersebelahan saya tetiba langsung mengajak ngobrol seputaran anak dan hal lain seputaran masalah umum ibu-ibu a.k.a gosip artis atau berita yang sedang popular. Padahal.. gossip artis gak ngikutin banget , buka IG juga yang dilihat newsfeed berita sharing seputaran anak dan crafts atau online shop walau bisa aja sihh sambil lihat di IG lamb***rah yang selalu hitz itu, cuman sekali lagi karena sudah punya priority tiap buka IG dan membuka internet, jadi hal yang menurut saya kurang penting ya gak akan saya buka. Bukan nya sok gimana gitu ya.. karena waktu tiap lihat internet melalui laptop ataupun handphone saya rada terlena dan tetiba melihat jam dan syok jadi lupa kerjaan utama lain nya, ada yang kayak saya juga gak? Hehehe

Balik lagi tentang saya si extrovert (versi orang lain) padahal sebenernya saya tuh tipe introvert. Saya gak punya banyak teman, lebih menyukai jalan sendiri atau hangout dengan beberapa teman, dan melakukan hal yang setidaknya bisa saya kerjakan sendiri, salah satunya menulis blog, blog seolah memberikan saya kesempatan untuk men”save” cerita yang saya pikir layak untuk terus di ingat dan dibagikan.

Dengan ngblog saya merasa punya tempat sendiri, ruang sendiri, yup kamar sendiri yang saya bisa atur “furniture”, “interior”, dan “theme” nya.
Sudah dari jaman multiply mulai ngblog, cuman pengetahuan dasar tentang blog sama sekali nihil, walau sekarang juga gak experts banget sihh… lalu saya pernah membuat website personal yang isinya mengenai wedding dan daily activity, kalo yang ini saya sudah paham dikit untuk backup postingan nya. Tapi tetep aja saya simpan dilaptop suami dan saat laptop bermasalah berimbas ikut terhapus tanpa sempat membackup nya lagi.

Sangat lama vakum dari blog walau sudah membuatnya lagi dengan platform blogspot. Tapi selalu ada excuse membiarkan blog kadang terisi kadang gak sama sekali. Alasan nya ihh pasti tau dehh karena masih bingung  menentukan judul posting.

Nahh pas banget #bloggerperempuan di bulan november-desember ini mengadakan 30 Days blog challenge dan ini kesempatan bagi saya sendiri untuk jadi penyemangat bagi diri sendiri lebih konsisten dalam menulis blog.

Read More

Prioritas ibu dirumah bersama anak

No comments
Sebagai seorang ibu yang full time dirumah, moment bersama anak-anak sudah pasti menjadi prioritas , bersyukur banget mereka hadir diantara kami berdua, Jarak 3 tahun antara sulung dan bungsu yang gak terlalu jauh banget, menjadikan mereka berdua bagaikan dua sahabat yang kadang akur dan kadang beda pendapat, seru sih tapi sekaligus melatih vokal suara ibuk, saya ibuk-ibuk seperti pada umumnya yang terkadang bisa sedang berlatih vokal atau tetiba seperti bunyi klakson mobil yang mendadak bunyi saat harus waspada menyetir.
 
Kadang kalo mereka lagi bisa diajak ngobrol, dan ditanya kenapa sihh kok rebutan mainan, kan mainan nya ada dua.. dan jawaban mereka adalah.. karena mainan abang atau mainan ade aku juga pengen mainin *padahalmainannyaasamahhh permisaaa.. 

Gimana coba ibuknya gak latihan vokal dan latihan mendakwah tiap mereka rebutan.
Disini saya merasahh perjuangan ibuk dirumah bersama dua orang ini diuji,  yang kalo diajak ngobrol nya masih kadang nyambung kadang numpang lewat macam iklan susu di tv.

Trik saat mereka sedang “tidak akur” Mengajak salah satu dari mereka untuk duduk dan berdiskusi mengapa mereka berebutan, dan apa solusi dari mereka untuk tidak terjadi hal yang sama. Biasanya berakhir baik-baik aja, kayak gak ada apa-apa gitu. terus mereka ketawa-ketawa dan pelukan. cuman kalo ditanya setelah nya atau besoknya berubah dong? ya nggak juga, saya mengulang lagi membuat kesepakatan bersama mereka. 

Marìii semangat ibuk-ibuk…
Read More