Perlukah menunda anak untuk masuk sekolah?


Mau berbagi cerita kenapa alasan nya abang C postpone bersekolah selama satu tahun., karena usia abang yang masih terlalu dini untuk bisa masuk ke tingkat Sekolah Dasar, saat itu usia nya baru 5 tahun 6 bulan. cerita nya dimulai dari up and down nya mood saya dan juga abang, karena buat saya untuk abang yang sudah terbiasa dengan rutinitas sekolah tiap pagi dan serangkaian jadwal aktivitas disekolah, jadi berubah karena tidak lagi bersekolah di "sekolah", sungguh tantangan dari bingungnya saya untuk menyesuaikan kegiatan yang bisa dikerjakan dirumah tapi tetep fun, membiasakan tetap bangun pagi seperti akan berangkat sekolah, jadwal tidur siang, dan main, belum lagi muncul merasa bersalah karena kekhawatiran untuk kesiapan abang C masuk SD dan masih banyak lagi, dan saya sama sekali tidak punya pegangan apa yang harus saya lakukan terlebih dulu.

Alhamdulilah sekarang sudah kebantu banget dengan adanya media social dan google tentunya., karena saya bisa memilah apa saja yang dapat abang C kerjakan disaat waktu-waktu nya dirumah, tanpa ketinggalan saat nanti akan masuk ke Sekolah Dasar. Ibuk-ibuk dan tentunya semua orang tua pasti ngerti banget kalo untuk masuk ke Sekolah Dasar sendiri anak paling tidak sudah bisa membaca beberapa suku kata, memang tidak semua sekolah mengharuskan untuk anak bisa membaca. tapi dari pengalaman cerita ibuk teman abang C saat masih di TK, ending nya mereka mengikutsertakan anak mereka di les tambahan membaca, karena kesulitan saat mengikuti mid-test dan ujian kenaikan kelas.


Saya sama sekali tidak punya pengalaman untuk mengajar, disini memahami banget kalo ternyata untuk bisa mengajarkan anak di usia abang C itu butuh perhatian dan tentunya kesabaran, jangan tanya gimana gemes nya saya saat mengajarkan mengenalkan suku kata ke abang C, di tangga nada apa suara saya bagaikan sarah brightman sedang bernyanyi, dan berapa kali abang C harus menangis. in the end nya anak nya tetep gak ngerti.

Lama-lama menyadari kalo yang salah ada di diri saya., ketidaksiapan saya untuk bisa mengajarkan abang C lebih rendah dibandingkan kekhawatiran saya terhadap abang C., perlahan dan sampai saat ini pun saya masih perlahan untuk mencapai titik bisa memahami diri saya sendiri.

Berbekal pengalaman dari abang C , saat ini adek A di usia nya yang sudah 3 tahun belum saya daftarkan ke sekolah, saya biarkan adek belajar melalui bermain, tapi gak selalu belajar juga, kegiatan yang dasar saja yang saya kenalkan kepada adek seperti warna, mengenal mana yang lebih besar dan kecil, mengenal bentuk melalui mainan nya. walaupun kadang jawaban nya pas dan kadang tidak.

Beda anak , beda karakter dan sifat pastinya walaupun saudara kandung, bukan berarti saat abang disekolahkan di usia 3 tahun tidak bagus, di saat abang usia 3 tahun yang menjadi pertimbangan saya dan suami untuk mendaftarkan abang C sekolah, agar abang bisa bersosialisasi, menambah perbendaharaan katanya., karena di usia itu abang C takut kalo bertemu orang, tidak mau bermain dengan anak seusianya. dan setelah di daftarkan sekolah serta mengikuti kegiatan sekolah, abang C mulai berubah untuk mau bersosialisasi, sharing dengan teman, mau bermain dengan anak seusianya.

Sedangkan adek karena ada abang C perbendaharaan kata , sharing , dan pemahaman nya akan percakapan cukup lancar, malah bagi saya sangat lancar. itu sebabnya kenapa adek belum didaftarkan untuk sekolah, karena bagi saya dan suami hal dasar seperti diatas tadi sudah bisa adek capai. sedangkan untuk kegiatan motorik dipelajari dirumah melalui kegiatan sehari-hari.

Perlukah menunda anak untuk masuk sekolah? bagi saya orang tua harus melihat dulu kesiapan anak untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih serius. berdiskusi dengan anak mengenai konsep sekolah.



No comments

Post a Comment